Si Malaikat Kecil
Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SMP dan ibu saya bilang “Kok ada yang gerak-gerak ya di perut mama,” sambil mengelus perutnya.
Saya yang khawatir
langsung menyuruhnya untuk kerumah sakit. Dan saking polosnya, saya berpikir
bahwa ada makhluk yang tinggal di perut ibu saya.
Ibu saya pun langsung
menunjukkan poto bahwa ada bayi kecil di dalam perutnya. Dan kata ibu saya
bayinya berkelamin perempuan.
Setelah 9 bulan
mengandung, sang bayi lahir dengan sehat. Bayi itu bernama Azarine Aqila
Shanum. Fakta tentangnya adalah dia anak terakhir, cucu terakhir, adik terakhir
saya dan orang terakhir di keluarga kami, maka dari itu kami memanggilnya
dengan Dedek. Dan semua orang suka dan sayang dengan dia.
Orangnya kecil, bukan
hanya tubuhnya tapi mata, hidung, muka, mulut, dan hampir keseluruhan. Biarpun
begitu jika melihat mukanya selalu membuat saya tersenyum. Dan walaupun kecil,
mulutnya suka berbicara. Kata ibu saya dia ini anak yang paling cepat bisa
berbicara di banding abang-abangnya. Anaknya juga pintar, bahkan semua orang
mengatakannya. Saya agak sedikit cemburu dengan kepintarannya. Hampir lupa
kulitnya putih walaupun tidak seputih saya waktu masih kecil, ucap ibu saya
bercerita.
Sewaktu umur dia masih
beberapa bulan ibu saya pernah bilang kepada saya “Kamu harus jadi contoh bagi
adik mu ini”, ucap sambil memandikan bayi itu. Waktu itu saya hanya meng-iyakan
saja karena saya tidak mengerti maksud dari perkataan ibu saya tadi. Namun
sekarang karena saya sangat dekat dengan adik saya, saya paham mengapa ibu saya
memberikan amanah itu.
Saya sangat dekat
dengannya. Setiap harinya pasti ada waktu dimana kita benar-benar berdua, hanya
berdua. Biasanya dipagi hari waktu dia baru bangun tidur. Dia langsung ke kamar
saya tak lupa dengan botol susunya kemudian berbaring di kasur saya sambil
menonton kartun kesukaannya di handphone.
Dia selalu menemani saya di setiap harinya. Saking dekatnya dia ada panggilan
sayang ke saya, yaitu “Mayoo”. Entah dapatnya dari mana, mungkin karena baru
belajar berbicara dan kebetulan saya dirumah dipanggil “iyo”, lahirlah kata itu
yang dipakainya sampai sekarang jika dia memanggil saya.
Sekarang dia berusia
kurang lebih 4 tahun. Bagi seorang balita diumur segini adalah masa aktif.
Benar dia adalah anak yang tidak bisa diam, selalu punya energi untuk melakukan
apapun. Selalu tertawa dan membuat orang yang ada di sekitarnya ikut tertawa.
Dia suka sama hewan
khususnya kucing. Dirumah saya ada dua kucing yang lahir hampir sama dengan
dia. Bisa dibilang kucing itu seumuran dengannya. Dan dia langsung menamai
kucing itu “Remy” untuk yang cowok dan “Momo” untuk si ceweknya. Dia juga suka
makan, apapun yang dia lihat dan dia mau makan pasti dimakan. Selain susu botol
dia suka makan udang. Udang itu seperti favorite
food nya dia. Dan mangga jadi buah favoritnya.
Dia suka main permainan
perempuan tapi juga suka main permainan laki-laki. Mungkin karena
abang-abangnya laki-laki semua. Dan teman mainnya rata-rata laki-laki. Dari
sepupu kita, hanya dia cucu perempuan yang masih kecil sisanya laki-laki.
Dia juga mungkin jadi
anak yang Fashionable saat sudah
besar. Karena dia hanya mau menggunakan pakaian yang dia suka. Apabila ibu saya
beli baju, selalu baju dia yang dibelikan. Karena selain anak perempuan
satu-satunya, ibu saya juga bilang “baju dedek itu murah, kalau baju kamu itu
mahal, ibu belikan yang murah pasti gamau”, memang pemilih orangnya.
Dedek itu tipe
perempuan yang easy going walaupun
sifat pemalu saya turun ke dia, tapi dia tidak seperti saya ketika berkenalan
dengan orang baru. Dia itu anak yang kalau di bawa kemanapun pasti mau ikut,
apalagi liburan ke pantai. Lari-larian dan bermain pasir di tepi pantai adalah
hal wajib yang harus dia lakukan apabila kita ke pantai.
Bagi seorang perempuan,
dedek itu menurut saya orang yang berani. Tidak sepenakut saya waktu kecil.
Walaupun sendiri di kamar dia berani. Berbeda 180 derajat dengan saya waktu
kecil.
Dia orang yang rajin
juga. Karena itu saya suka memanfaatkan sifat rajinnya itu. Jahat juga kalau
dipikir tapi apa salahnya minta tolong. Jika dilihat dari abang-abangnya, tidak
ada dari kami yang memiliki sifat rajin. Apa karena dia perempuan satu-satunya
atau mungkin karena sedang difase aktifnya ?. yang pasti saya berharap sifat
rajinnya tetap ada sampai kapan pun.
Saya pernah bertanya
kepadanya “Dek, nanti kalau sudah besar mau jadi apa ?”. dia menjawab “Dedek
mau jadi dokter”. Menurut saya cocok banget dia jadi dokter. Selain pemberani,
rajin, dia juga orangnya perhatian dan teliti. Bukan hanya sering membangunkan
saya tidur, dia juga sering mengingatkan saya untuk makan. Menyuruh saya tidur
kalau dia tahu saya begadang. Walaupun orangnya kecil, tapi dia kuat. Mungkin
bukan fisiknya tapi hatinya.
Dia anak kesayangan
ayah banget. Mungkin karena faktor perempuan dan anak bungsu. Tapi ayahyang begitu
cuek dan seolah tidak peduli dengan kami, saat dengan dedek ayah jadi orang
yang homuris. Walaupun ayah bukan tipe orang yang suka marah, tapi saat dedek
ada masalah dia pasti yang paling khawatir. Apapun yang dia mau, ayah pasti
selalu berusaha buat kasi. Saya pasti akan seperti ayah, jika nanti saya jadi
seorang ayah dan punya anak perempuan.
Kalau mama menurut saya
biasa aja. Karena bagi saya setiap anak pasti dekat dengan ibunya. Kalau
berbicara soal ibu pasti tidak ada habisnya. Menurut saya, mama itu adalah
orang yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Walaupun mama bilang saya itu
seperti ayah tapi kalau marah, saya itu seperti beliau. Sama hal nya dengan
dedek, walaupun dia dekat dengan ayah tapi sifatnya mama banget.
Tapi dibalik
keberaniannya dedek itu juga ada takunya. Dia itu takut dengan api. Menurut
saya aneh, karena saat dia melihat api itu seperti melihat musuhnya. Selain
api, dedek itu juga takut dengan hewan yang menjijikan. Seperti ulat, ular dan
kebnyakan hewan yang melata. Tapi dia tidak takut dengan kecoa. Aneh menurut
saya ada orang yang berani dengan kecoa. Bagi saya kecoa itu sangat menjijikan.
Tapi dedek itu berani dengan kecoa. Aneh memang anak satu ini.
Tapi dibalik kekuatan
dan kelemahannya, dimata saya dia hanya seorang gadis kecil yang begitu saya
sayang. Selain mama, dia wanita kedua yang saya rela mati deminya. Sama dengan
mama, dia adalah malaikat kecil yang ada dirumah. Kehadirannya selalu
memberikan kebahagiaan bagi sekitarnya.
Dan saya berharap bagi
dedek, sehat selalu dan semoga cita-citanya yang ingin menjadi dokter bisa
tercapai, aamiin.
Komentar
Posting Komentar